Sekarang ini lagi ramai dan hangat dibisacarakannya perihal kematian Nazrudin. Ini dikarenakan dugaan mengenai otak pembunuhan berujung ke Antasari, pemimpin KPK yang lalu (saat ini cuti / non aktif). Antasari sendiri sudah membantah keterlibatannya dalam tindakan eksekusi terhadap Nazrudin. Saya akan membuat teori yang paling mungkin tentang situasi ini.
Pada dasarnya memang wanita sering digunakan untuk misi-misi khusus, seperti dalam marketing atau peperangan under ground. Hanya saja, memang trik-trik marketing memang mirip dengan strategi perang.
Bila berbicara fakta yang didapat kepolisian, maka hampir dapat dipastikan bukti yang mengarah pada hubungan dekat Rani dan Antasari.
Sekarang, mengapa harus ada yang bersimbah darah ? Nasrudin tewas disambar peluru. Nazrudin diceritakan sebagai suami dari Rani. Tapi adalah hal yang SANGAT ANEH bila tiba-tiba Antasari dikatakan dengan serta merta telah membunuh Nazrudin, mengingat prestasi sementara ini dalam mengungkap korupsi, meskipun masih sekelumit kalau dilihat dari prosentasinya, dan masih banyak yang menggantung. Ada 2 hal yang masih menggantung, patut dicatat : masalah Aulia Pohan (besan SBY), dan IT KPU yang melibatkan ratusan miliar anggaran hanya untuk program aneh / dipaksakan.
Apa cerita yang paling mungkin? Saya mencoba membuat garis awah tekanan.
Bahwa laki-laki biasanya jatuh oleh wanita, ini banyak terjadi di cerita-cerita orang besar. Selain itu dimungkinkan juga mendidik agen-agen intelijen wanita untuk misi-misi critical, biasanya highly effective. Saya membaca berita di televisi bahwa ada Pakar Intelijen yang menyebutkan bahwa Antasari dijebak.
So, kita asumsikan memang terjadi hubungan Antasari-Rani Juliani. Dibalik terjadinya hubungan adalah adanya jebakan, tinggal siapa yang menjebak. Ada yang menulis bahwa penjebak ini sebenarnya adalah Nazrudin, yang mengumpankan ke Antasari, dan dimakanlah jebakan ini. Antasari gak berkutik, bila rahasia ini dibeberkan. Maka Antasari dituntut untuk menguak korupsi di suatu BUMN gula, mengingat Nazrudin mengincar posisi Direksi di BUMN tertentu. Cuman konon dibalik BUMN ini sangat pelik, karena akan menyeret dana untuk membiayai operasi-operasi dalam hal perpolitikan. Artinya ini menyangkut nama baik berbagai macam partai (ada dugaan banyak partai yang dibiayai oleh dana korupsi di BUMN tersebut). Antasari punya kedekatan kuat dengan partai politik tersebut.
Sehingga konon terpaksa Antasari mengeksekusi Nazudin.
--
Namun saya masih sangsi dengan skenasio di atas. Saya lebih berpikir bahwa memang sebenarnya Antasari musti ditembak jatuh dari KPK karena sudah menyusahkan banyak orang dengan mengobok-obok sampai ke DPR, atau ke kantong-kantong kekuasaan. Setelah sekian lama maka dibuatlah skenario tersebut. Ada 2 orang yang saya curigai disini, yaitu sosok Sigid dan Rani Juliani itu sendiri. Sigid adalah orang bekas Golkar yang masuk ke PKB. Sosok ini cukup aneh karena dikatakan sebagai biang perpecahan PKB, meskipun dikatakan pernah ada hubungan Yenny - Sigid. Sigig bisa berlaku sebagai intelijen penyusup / lapangan yang melakukan aksi-aksi. Bisa saja Sigid mendidik Rani untuk menjadi semacam agent yang mendekati Nazrudin. Saya menyebut Nazrudin lah yang pertama termakan oleh skenario ini, yang seterusnya menyiapkan skenario lanjutan untuk mendekatkan Rani ke Antasari (Step 2). Setelah itu yang mendapat nasib buruk adalah si Nazrudin, entah ini memang telah disusun skenarionya , atau hasil perkembangan lebih lanjut di lapangan.
Yang jelas bila disusun teorinya bisa sangat-sangat pelik, namun mengarah pada penghentian upaya-upaya antikorupsi, termasuk dugaan IT KPU. Kita lihat saja performance KPK setelah ditinggalkan Antasari, apakah semakin baik atau makin buruk, ini akan menjadi sinyalemen tersebut.
Posted in
written by
bagusalfa
time
17:27
(Tuesday, April 21, 2009)
ICR yang dibaliknya mengandung model Character Recognition dicoba di terapkan oleh KPU tahun ini. Saya memang tidak mengerti arsitektur di balik ICR ini, seperti menggunakan jenis Artificial Neural Network apa, seberapa banyak interkoneksi bobotnya, menggunakan metode pembelajaran apa, apakah di hibrid dengan model lain di ANN, dsb.
Jenis interkoneksi pada ANN, banyaknya bobot, penggunaan metode pembelajaran tertentu, akan sangat menentukan kecerdasan dari Character Recognition.
Namun ada lagi yang sangat menentukan result datanya, yaitu Sample Data / Epoch. Karena saya perkirakan ICR ini menggunakan jenis Supervised Learning ANN, maka kelengkapan sample data adalah hal yang mutlak. Mustinya sample data ini didapatkan dari simulasi-simulasi pencontrengan di seluruh pelosok nusantara, sehingga karakter manusia penginput datanya ikut meningkatkan pertimbangan akurasi data. Saya membaca bahwa team yang melakukan pembelajaran ICR ini menggunakan stok data terbatas (saya mengasumsikan bahwa sample data ini jauh dari cukup untuk melakukan pembelajaran pada mesin ICR). Hasilnya sangat dapat diduga adanya kesalahan / deviasi error pada saat recognition. Ini merupakan hal-hal yang bersifat teknis.
Saya cuman sangat kasihan pada team yang bekerja keras di balik engine ini, yang seakan-akan dijadikan kambing hitam kesalahan team KPU secara general. Hal ini karena implementasi IT jelas itdak bisa dilihat dari sisi Teknikal belaka, namun faktor non teknis akan sangat berpengaruh. Hal ini bisa dilihat pada methodologi pengembangan software yang biasanya mengikutkan Risk Analysis - yang juga berkorelasi dekat dengan Security Analysis. Saya merasa ada usaha "social hacking" untuk me - "mejen" - kan (red: bahasa jawa) information system di KPU, dengan mempersalahkan bagian penginput.
Indonesia memang saat ini jauh dari budaya gotong royong demi kesejahteraan masyarakat dan warganegara Indonesia. Sekarang hanyalah faktor kepentingan yang mengemuka, alias kantong belaka. Ini adalah keberhasilan pendidikan era kapitalis garis keras. Maka, saya mengajak untuk kembali ke model Pancasila seperti dicita-citakan oleh founding fathers kita.
Posted in
written by
bagusalfa
time
16:23
Analysis RHENALD KASALI: BBM naik adalah ulah Goldman Sachs dan Morgan Stanley [Spekulan Minyak]
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/30/01491018/wajah.baru.pedagang.minyak
ANALISIS EKONOMI
Wajah Baru "Pedagang" Minyak
RZF / Kompas Images
RHENALD KASALI
Senin, 30 Juni 2008 | 03:00 WIB
RHENALD KASALI
Kalau kami produksi minyak lebih banyak lagi, tidak ada yang membeli,” kata Raja Abdullah saat menutup KTT produsen-konsumen minyak. Semua pemimpin dunia pusing mencari solusi menahan laju harga. Kaya minyak, kok, tak berdaya? Di sini, selain disambut amarah rakyat, pemerintah juga disambut ”hak angket”. Sementara itu, yang tak punya minyak menari-nari dengan perdagangan dan spekulasi.
Ketidakberdayaan ini tak dapat diatasi dengan kecurigaan dan bermabuk wacana, apalagi dengan jalan pintas. Banyak hal telah berubah dan kita harus berlari lebih kencang lagi. Namun, ada yang sudah berubah, tetapi miskin pengakuan sehingga memicu frustrasi.
Menari di atas bara api
Ibarat menari di atas bara api dengan genderang ditabuh orang lain, Indonesia jelas menderita. Dulu, genderang itu ditabuh International Oil Company (IOC, perusahaan swasta, seperti Exxon Mobil, Chevron, dan Shell) yang bekerja sama dengan National Oil Company (NOC, milik negara, seperti Saudi Aramco, Petronas, Petrobras, Statoil, PDVSA Venezuela, dan Pertamina). Namun, sejak menjadi net importer, kita cuma menjadi penari, sedangkan genderangnya berpindah ke pengendali keuangan di bursa komoditas.
Kongres Amerika mengungkapkan, investasi terbesar belakangan ini berbentuk ”paper” di bidang energi. Porsinya bergeser dari 4,6 persen (2003) menjadi 30,7 persen (2005), dan sekarang di atas 50 persen (NYMEX, 2006). Menurut The New York Times, keuntungan minyak sebesar 1,5 miliar dollar AS yang dinikmati Goldman Sachs dan Morgan Stanley (2005) menimbulkan efek domino panjang.
Stok minyak (juga kekayaan) telah beralih dari NOC-IOC kepada para trader dan pelaku sektor keuangan yang tidak punya sumur, fasilitas kilang, gudang, atau kapal. Persepsi yang hidup di bursa itu berbeda dengan angka riilnya. Lord Browne, mantan CEO BP, menandaskan, ”Tidak ada indikasi kelangkaan. Naiknya harga tidak berhubungan dengan suplai-permintaan.”
Maka, harga minyak pun bergerak-gerak seperti harga saham. Secara empiris, semua ini hanya bisa ditangkal NOC dengan membentuk oil trader yang kuat.
Transformasi NOC
Karena kini minyak diperdagangkan trader dan ”spekulator”, penting mentransformasi tangan-tangan perdagangan NOC. Masalahnya, NOC selalu sarat belenggu dengan berbagai aturan dan diganggu berbagai kepentingan. Kalau belenggu-belenggu itu tidak dilepaskan, oil trader tidak bisa bergerak optimal karena pengambilan keputusannya butuh manuver cepat, perencanaan matang, jaringan luas, dan manajemen keuangan yang canggih. Pengawasan perlu, tetapi bukan dengan kecurigaan berlebihan, apalagi dengan bureaucratic control. Gunakan saja result-based control yang lazim dipakai perdagangan modern.
Di Indonesia, harus diakui, banyak kemajuan yang dicapai dari transformasi Pertamina yang didasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001. Namun, kemajuan itu mahal pengakuan karena banyak kepentingan terusik, baik dari dalam maupun luar negeri.
Kalau Pertamina kuat, misalnya, tidak ada ruang bagi tangan-tangan perdagangan asing yang mengincar pasar-pasar gemuk di kota-kota besar. Mereka akan berjuang mengarahkan Pertamina agar mengurus pasar di pinggiran saja yang ongkos kirim BBM-nya lebih mahal dengan menunjukkan NOC Indonesia ini kalah bersaing karena tidak efisien.
Di negara yang politiknya kondusif, NOC-nya berhasil memutasikan DNA oil trader-nya. Aramco, misalnya, melakukan penetrasi ke Amerika dengan jaringan SPBU Motiva. Petronas membeli jaringan SPBU di Afrika Selatan, Petrobras (Brasil) mengembangkan eksplorasi laut dalam bersama Statoil (Norwegia), dan NIOC (Iran) keuangannya beroperasi di New Jersey dan Swiss.
Untuk menangkal spekulator, NOC memodernkan tangan- tangan oil trading-nya. PETCO (milik Petronas), NICO (milik NIOC-Iran), Saudi Petroleum International (Saudi Aramco), Sonatrach Petroleum International (Sonatrach, Aljazair), Q8 (Kuwait), dan Petral (Pertamina) mengalami overhaul.
Oil Trading Company itu ditaruh di pusat perdagangan dunia dan serius melawan broker yang dulu dikuasai para kroni. Mereka juga bertransformasi dari buying agent menjadi trader modern.
Wajah baru ”trader” minyak
Jelaslah kesejahteraan kini sudah tidak bisa dipungut begitu saja dari perut bumi. Sebagai big consumer, Indonesia bisa sejahtera melalui Pertamina asalkan Petral dipertajam perannya dengan melakukan transaksi jangka panjang untuk pasar domestik, tetapi juga melakukan penetrasi global, kerja sama dengan pemilik kilang mancanegara, swap produksi, dan sebagainya. Adaptasi diperlukan untuk menghadapi wajah perdagangan yang sudah berubah.
Ia butuh fleksibilitas dan kepercayaan. Dan, karena financing-nya kompleks, butuh pemahaman tingkat tinggi, konsensus politik, dan status ”Approved Oil Trader” yang dikeluarkan otoritas perdagangan dunia.
Sepengetahuan saya, Petral sudah memilikinya, bahkan mulai kembali dipercaya bank asing. Jadi, Petral berpotensi memperoleh competitive price untuk konsumen Indonesia asalkan diberi kepercayaan lebih. Tanpa itu, hanya ada kecurigaan dan rakyat semakin menderita.
Rhenald Kasali Pengajar di Universitas Indonesia
Posted in
written by
bagusalfa
time
14:14